Sabtu, 07 Maret 2009


Penemuan Gulungan Kitab
Orang-orang Qumran dan Mesias
Juma mulai agak tegang. Beberapa ekor kambingnya memanjat tebing terlalu tinggi. Ia memutuskan untuk memanjat tebing itu sendiri dan membawa kambing-kambingnya kembali. Ketika mulai memanjat tebing itu pada bulan Januari 1947, Juma tidak menyadari bahwa ia pada akhirnya akan terlibat dalam suatu "penemuan arkeologi terbesar di abad keduapuluh." Pikiran semacam itu sama sekali tidak terlintas sewaktu ia melihat dua celah kecil milik salah satu dari ribuan gua yang memenuhi tebing tandus yang mengarah ke tepian pantai sebelah barat laut dari Laut Mati. Ia melemparkan sebuah batu ke salah satu celah tersebut. Bunyi pecahan tak terduga telah mengejutkannya; ada apa di gua terpencil itu selain kemungkinan harta karun? Ia memanggil sepupu-sepupunya, Khalil dan Muhammed, yang kemudian memanjat tebing tersebut dan mendengarkan kisah yang memikat tersebut. Namun saat itu sudah terlalu sore dan kambing-kambing harus segera dikumpulkan. Besok mereka akan kembali lagi - barangkali saja masa-masa mereka harus menggembalakan kambing akan berakhir segera setelah harta karun tersebut ditemukan!

Penemuan arkeologi apa yang paling mempengaruhi Alkitab sepanjang zaman?
"Mungkin Gulungan-gulungan Laut Mati memberikan pengaruh paling besar pada Alkitab. Gulungan tersebut memberikan manuskrip Perjanjian Lama yang berusia 1000 tahun lebih tua dari manuskrip tertua yang kita miliki sebelumnya. Gulungan-gulungan Laut Mati memperlihatkan bahwa Perjanjian Lama disalin dengan akurat selama selang waktu tersebut.. Sebagai tambahan, gulungan tersebut juga memberikan banyak informasi mengenai era menjelang dan selama kedatangan Kristus."--Dr. Bryant Wood, arkeolog, Associates for Biblical Research
Muhammed, yang termuda dari ketiganya, esok paginya bangun terlebih dahulu dari kedua rekannya sesama 'pencari harta karun' dan bergegas menuju ke gua. Lantai gua ditutupi serpihan, termasuk dari guci yang pecah. Di sepanjang dinding terdapat sejumlah guci bermulut sempit, sebagian dengan penutup berbentuk mangkok. Dengan cepat Muhammed mulai menjelajahi isi setiap guci tetapi tidak ditemukan emas… hanya ada beberapa bundelan terbungkus kain kehijauan akibat terlalu tua. Setelah kembali kepada saudara-saudaranya, ia menceritakan kabar buruk itu - tidak ada harta karun.
Memang tidak ada harta karun! Gulungan-gulungan yang diambil anak-anak Bedouin dari gua gelap pada hari itu dan hari-hari selanjutnya akan dikenal sebagai harta karun manuskrip/naskah terbesar yang pernah ditemukan - tujuh naskah pertama dari Gulungan Laut Mati.
Demikianlah penemuan kelompok naskah yang berumur 1000 tahun lebih tua dari teks Alkitab Ibrani yang dikenal sebelum penemuan itu (banyak diantara naskah tersebut berasal dari masa 100 tahun sebelum kelahiran Yesus). Naskah-naskah ini segera menggemparkan dunia arkeologi yang menyiapkan satu tim penerjemah dengan tugas raksasa yang bahkan hingga hari ini belum terselesaikan.

Cave 4 at Qumran where approximately 15,000 fragments from some 574 manuscripts were found.
Kisah bagaimana gulungan-gulungan tersebut beredar dari tangan para gembala Bedouin muda tersebut sampai menjadi objek penelitian yang saksama dari para ahli internasional sendiri merupakan kisah yang lebih mencengangkan dibandingkan cerita fiksi. Meskipun tidak semua detail dari tahun-tahun pertama setelah penemuan tersebut akan pernah benar-benar terungkap, garis besar ceritanya cukup jelas. Setelah disimpan di sebuah kemah Bedouin beberapa waktu, ketujuh gulungan asli tersebut dijual kepada dua toko antik Arab di Bethlehem. Dari sana , empat gulungan dijual (dengan harga murah) kepada Athanasius Samuel, Syrian Orthodox Metropolitan di St. Mark's Monastery di Kota Tua Yerusalem. Para ahli dari American School of Oriental Research , yang menelaahnya, adalah yang pertama-tama menyadari kekunoannya. John Trever mengambil foto naskah tersebut secara detil dan ahli arkeologi terkemuka William F. Albright segera mengumumkan bahwa naskah-naskah tersebut berasal dari periode antara 200sM sampai 200M. Pengumuman pertama dimunculkan bahwa naskah tertua yang pernah ditemukan telah ditemukan di padang gurun Yudea.
Clay jar of the type the Dead Sea Scrolls were found in. From Qumran, now in the Citadel Museum , Jordan .
Tiga gulungan asli lainnya yang ditemukan oleh anak-anak Bedouin dijual kepada E.L. Sukenik, ahli arkeologi di Hebrew University dan ayah Yigal Yadin (seorang jenderal tentara Israel yang kemudian menjadi seorang ahli arkeologi terkemuka dan penggali situs Masada serta Hazor). Perlu dicatat bahwa drama peristiwa ini sangat menarik karena periode tersebut adalah saat-saat terakhir periode Mandat Inggris di Palestina dan ketegangan antara penduduk Arab dan Palestina sangat besar. Ini juga yang menyebabkan pengkajian naskah-naskah oleh para ahli sangatlah berbahaya.
Semua gulungan akhirnya terkumpul di Hebrew University dengan cara yang aneh pula. Setelah berkeliling Amerika dengan keempat gulungannya dan tidak menemukan seorang pun pembeli yang tertarik, Metropolitan Samuel memasang iklan di Wall Street Journal (sebuah koran bisnis terkemuka di Amerika, pen.). Secara kebetulan (atau campur tangan ilahi?) Yigal Yadin sedang mengajar di New York dan melihat iklan tersebut. Melalui para makelar, ia berhasil membeli gulungan yang tak ternilai tersebut dengan harga US$250,000. Bulan Februari 1955, Perdana Menteri Israel mengumumkan bahwa Negara Israel telah membeli gulungan-gulungan tersebut dan ketujuh gulungan (termasuk tiga yang dibeli terlebih dahulu oleh Profesor Sukenik) akan diletakkan di sebuah museum khusus di Hebrew University dan diberi nama Shrine of the Book (Kilauan Buku), dimana semuanya masih dapat dilihat sampai hari ini.
Tidak diragukan lagi, pengumuman awal mengenai gulungan-gulungan ini segera mendorong banyak penelitian di daerah penemuan semula. Ekspedisi arkeologi resmi dimulai tahun 1949 yang akhirnya berhasil menemukan sepuluh gua lagi di daerah sekitarnya yang juga mengandung gulungan-gulungan naskah. Para arkeolog kemudian mengarahkan perhatian mereka pada sebuah reruntuhan kecil yang disebut "Khirbet (reruntuhan) Qumran , yang sebelumnya diduga merupakan sisa sebuah benteng kuno dari zaman Romawi. Setelah enam periode penggalian secara intensif, para ahli sangat yakin bahwa gulungan-gulungan tersebut berasal dari komunitas yang muncul antara tahun 125 sM sampai 68M. Gulungan-gulungan tersebut disimpan dengan tergesa-gesa di dalam gua sewaktu komunitas di daerah tersebut melarikan diri dari serbuan tentara Romawi yang sedang berada di Yudea untuk menumpas Pemberontakan Yahudi tahun 66-70 M.
Reruntuhan Qumran, yang dapat dikunjungi hari ini, menyingkapkan sejumlah besar asketis Yahudi yang mendiami komunitas tersebut. Ruang penyimpanan, saluran air, pemandian ritual dan ruang pertemuan telah berhasil digali. Salah satu ruangan paling menarik yang telah digali adalah sebuah ruang kitab, dicirikan oleh dua wadah tinta yang ditemukan beserta sejumlah tempat duduk untuk para penyalin kitab. Di ruangan inilah disalin sebagian besar, kalau tidak semua, naskah yang ditemukan.
Penjelasan Gulungan-gulungan KitabSegera setelah diumumkannya penemuan gulungan-gulungan kitab, debat ilmiah tentang asal usul dan pentingnya penemuan tersebut bergulir. Debat memanas ketika isi gulungan yang menakjubkan tersebut disebarluaskan secara bertahap.
Ketujuh gulungan asli, yang berasal dari "Gua Pertama", terdiri dari naskah-naskah berikut: (1) Salinan utuh dan terawat dari seluruh nubuat Yesaya - salinan kitab Perjanjian Lama tertua yang pernah ditemukan; (2) Sebagian gulungan yang berisi kitab Yesaya; (3) Tafsiran dua pasal pertama kitab Habakuk - peanfsir menjelaskan kitab tersebut secara alegoris menurut istilah yang dipakai oleh persekutuan Qumran; (4) "Manual Disiplin" atau "Aturan Komunitas" - sumber informasi paling penting tentang sekte keagamaan di Qumran - menjelaskan persyaratan yang harus dipenuhi oleh mereka yang ingin bergabung dalam persekutuan tersebut; (5) "Himne Ucapan Syukur, suatu kumpulan 'mazmur' devosional bagi pengucapan syukur dan pujian kepada Tuhan; (6) sebuah parafrase kitab Kejadian berbahasa Aram; dan (7) "Aturan Perang" yang berisi kisah peperangan antara "Anak-anak Terang" (yaitu orang-orang Qumran) dengan "Anak-anak Kegelapan" (orang-orang Romawi?) yang akan terjadi pada "zaman akhir", yang diyakini oleh orang-orang Qumran akan segera tiba.
Ketujuh gulungan pertama tersebut baru merupakan suatu awal. Lebih dari 600 gulungan dan ribuan fragmen (bagian dari kitab/gulungan, penerjemah) telah ditemukan di dalam kesebelas gua di daerah Qumran . Fragmen dari setiap kitab di Alkitab kecuali kitab Ester telah ditemukan, selain teks-teks non-Alkitab lainnya.
Salah satu penemuan paling menarik adalah sebuah gulungan tembaga yang harus dipotong sebelum dapat dibuka dan mengandung daftar 60 harta karun yang terletak di berbagai lokasi di Yudea (namun satupun belum pernah ada yang ditemukan)! Gulungan lainnya, yang ditemukan oleh para arkeolog Israel pada tahun 1967 di bawah lantai sebuah penjual barang antik di Betlehem, menjelaskan secara detil pandangan komunitas tersebut tentang tata ibadah Bait Suci yang rumit. Gulungan ini diberi nama "Gulungan Bait Suci."
Isi gulungan-gulungan Laut Mati memberi indikasi bahwa para penulisnya adalah sekelompok imam dan orang awam yang mengejar kehidupan komunal dengan dedikasi penuh kepada Allah. Pemimpin mereka disebut "Guru Kebenaran". Mereka memandang diri mereka sebagai satu-satunya Israel yang benar - hanya mereka yang setia kepada Hukum Allah.
Mereka menentang "Imam Jahat" - Imam Besar Yahudi di Yerusalem yang merepresentasikan kemapanan dan dengan berbagai cara telah menganiaya mereka. Imam jahat ini mungkin adalah salah satu pemimpin Makabe yang secara tidak sah telah mengangkat diri sebagai imam besar antara tahun 150-140 sM. Sebagian besar ahli mengidentifikasikan persekutuan Qumran dengan orang-orang Esseni, suatu sekte Yahudi pada zaman Yesus sebagaimana digambarkan oleh Josephus dan Philo.
Seperti apapun orang-orang Qumran , tulisan mereka memberikan kita gambaran latar belakang yang mengagumkan tentang salah satu aspek dunia religius yang didatangi Yesus. Sebagian ahli mencoba menarik kesejajaran antara tokoh-tokoh di dalam gulungan tersebut dengan Yohanes Pembaptis atau Yesus, namun penelitian objektif terhadap kesejajaran semacam itu menunjukkan bahwa perbedaannya jauh lebih besar daripada kemiripannya. Setiap hubungan antara Yesus dengan Qumran bersifat spekulatif dan sangat tidak mungkin. Pandangan bahwa Yohanes Pembaptis mungkin menghabiskan sebagian waktunya dengan komunitas Qumran mungkin saja karena kitab-kitab Injil menceritakan bahwa ia menghabiskan banyak waktu di padang gurun dekat dengan daerah dimana komunitas Qumran berada (Matius 3:1-3; Markus 1:4, Lukas 1:80; 3:2-3). Namun demikian, berita yang dibawa Yohanes sangat berbeda dengan konsep yang dikembangkan oleh persekutuan Qumran . Satu-satunya titik kesamaan adalah keduanya mengajarkan bahwa "Kerajaan Allah" sedang datang.
Salah satu sumbangan penting Gulungan-gulungan Laut Mati adalah banyaknya naskah Alkitab yang ditemukan. Sebelum penemuan Qumran , naskah Perjanjian Lama yang tertua disalin pada abad ke-9 dan 10 Masehi oleh sekelompok penyalin Yahudi yang disebut kaum Masoret. Sekarang kita memiliki naskah-naskah yang berumur 1000 tahun lebih tua dari sebelumnya. Kenyataan yang mengagumkan adalah bahwa naskah-naskah ini hampir identik! Inilah contoh nyata akan perhatian sungguh-sungguh yang diberikan oleh para penyalin Yahudi selama berabad-abad dalam usahanya menyalin Alkitab secara akurat. Kita dapat yakin bahwa Perjanjian Lama benar-benar menggambarkan kata-kata yang diberikan kepada Musa, Daud dan para nabi.
DOKTRIN GULUNGAN LAUT MATIOrang-orang Qumran sungguh-sungguh percaya kepada doktrin "zaman akhir". Mereka lari ke padang gurun dan menyiapkan diri untuk menghadapi penghakiman yang segera akan tiba ketika musuh-musuh mereka dihancurkan, dan mereka, umat pilihan Allah, akan diberikan kemenangan terakhir sesuai dengan ramalan para nabi. Hubungan dengan kejadian akhir zaman inilah yang memunculkan salah satu pengajaran paling menarik dari sekte ini. Pengharapan mesianis menyebar dalam pemikiran kelompok persekutuan ini. Bahkan bukti-bukti menunjukkan bahwa mereka sesungguhnya percaya akan tiga orang mesias - yang satu seorang nabi, yang kedua seorang imam dan yang ketiga seorang raja atau pangeran.
Dalam dokumen yang disebut "Manual Disiplin" atau "Aturan Komunitas", dijelaskan bahwa orang beriman harus terus hidup mengikuti aturan "sampai datangnya seorang nabi dan seorang yang diurapi [mesias] dari garis Harun dan Israel" (kolom 9, baris 11). Ketiga tokoh ini akan muncul untuk menuntun memasuki zaman yang sedang disiapkan oleh komunitas tersebut.
Dalam dokumen lainnya yang ditemukan di Gua Empat dan dinamakan "Testimonia", sejumlah ayat Perjanjian Lama dituliskan sebagai basis pengharapan mesianis mereka. Yang pertama adalah kutipan dari Ulangan 18:18-19 dimana Allah berkata kepada Musa:"seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini." Berikutnya adalah kutipan dari Bilangan 24:15-17, dimana Bileam meramalkan munculnya seorang pangeran penguasa: "bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel , dan meremukkan pelipis-pelipis Moab " dsb. Yang ketiga adalah berkat yang diucapkan oleh Musa kepada suku Lewi (suku imam) di Ulangan 33:8-11. Cara bagaimana ketiga kutipan ini disatukan menandakan bahwa penulisnya melihat kedepan kepada bangkitnya seorang nabi besar, pangeran besar dan imam besar.
Ada tiga orang di dalam tulisan Perjanjian Lama yang diacu sebagai "orang yang diurapi" - nabi, imam dan raja (lihatlah Kel 29:29; 1 Sam 16:13, 24:6, 1Raj 19:16, Mazmur 105:15). Masing-masing dikuduskan bagi pekerjaannya oleh urapan minyak. Kata Ibrani "yang diurapi" adalah meshiach, dan dari kata itu muncullah kata Mesias.
Kebenaran mengagumkan dari doktrin Perjanjian Baru tentang Mesias adalah bahwa masing-masing ketiga jabatan ini digenapi dalam pribadi dan karya Yesus dari Nazaret! Orang-orang tercengang ketika Ia memberi makan orang banyak dan berkata, "Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia." (Yoh 6:14; juga Yoh 7:40; Kis 3:22, 7:37). Yesus juga seorang imam, bukan menurut peraturan Lewi tetapi peraturan Melkisedek (Maz 110:4, Ibr 7), yang memberikan Diri-Nya sebagai korban dan berdiri untuk kita di hadapan Bapa-Nya (Ibr 9:24-26; 10:11-12). Juga, Yesus disebut sebagai Seseorang yang akan menerima "takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." (Lukas 1:32-33). Ia akan diakui sebagai "Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan." (Wahyu 19:16).
Jadi, kita telah menemukan titik kontak yang menarik antara Qumran dan kekristenan - titik kontak yang juga merupakan titik pemisah. Komunitas Qumran dan orang-orang Kristen awal sepakat bahwa pada hari-hari penggenapan nubuat Perjanjian Lama akan muncul seorang nabi besar, imam besar dan raja besar. Namun ketiganya merupakan tokoh yang berbeda dalam pengharapan Qumran sedangkan Perjanjian Baru memandangnya menyatu dalam pribadi Yesus dari Nazaret.
Satu naskah lagi yang muncul dalam beberapa tahun terakhir ini memberikan latar belakang yang menarik atas pengharapan mesianis Perjanjian Baru. Naskah ini telah direkonstruksi dari 12 fragmen kecil, menghasilkan tidak lebih dari dua kolom tulisan; namun idenya dapat diketahui dari isinya yang singkat. Isinya adalah ramalan kelahiran seorang Anak Ajaib, yang barangkali diambil dari Yesaya 9:6-7: "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita… dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib.." Anak ini akan menunjukkan tanda-tanda khusus pada tubuh-Nya dan akan dikenal melalui kebijaksanaan dan kepandaiannya. Ia akan mampu mengetahui rahasia semua makhluk hidup dan Ia akan memulai suatu zaman baru yang sudah sejak lama dinantikan oleh orang-orang beriman.
Tidakkah mengejutkan bahwa segera setelah naskah ini disusun, seorang anak dilahirkan yang menggenapi pengharapan Israel dan memulai suatu zaman baru? Meskipun orang-orang Qumran keliru dalam detil-detil mesias mereka, namun mereka mengharapkan seseorang yang ciri-ciri umumnya diilustrasikan dengan luar biasa dalam hidup Yesus dari Nazaret, Anak Allah dan Mesias. Kita tidak tahu apakah sejumlah orang Kristen membawa pesan Yesus kepada komunitas di gurun ini. Kita hanya bisa berspekulasi bagaimana caranya mereka menanggapi Anak Ajaib yang dilahirkan di Bethlehem yang adalah Nabi, Imam dan Raja Israel.

Minggu, 01 Maret 2009

SIMPLE IDEA: OPINI

Renungan
Opini
Albums
Mutiara
POLITIK IDENTITAS

Yarid K. Munah

“Hanya ada satu ketakutan yang ada pada sebuah kebaikan bersama yakni setan egoisme. Dia tidak mengenal apa itu ‘mereka’ dan bahkan ingin menindas apa itu ‘mereka’-tidak mengenal kata ’kita’ karena intensinya hanya untuk sebuah kebahagiaan sendiri” ...

Itulah yang disebut politik identitas yang sedang berkembang dikalangan para elite politik. Bahkan ada anggapan bahwa ada musim tertentu mereka memanen keuntungan yang luar biasa. Kendati apa yang dilakukan adalah sebuah bencana bagi banyak orang namun itu tidak disadari karena dirinya ’diamankan’ dengan keuntungan yang diperoleh itu. Hal yang sangat diragukan ini ternyata sudah menjadi hal biasa dan bahkan sudah menjadi kebiasaan umum. Dan begitu kuatnya praktek ini sampai-sampai ada orang yang mendukungnya dan merasa bahwa itu sangat baik untuk setiap mereka yang menyebut diri ’kaum pengambil keputusan’ atau ’kaum penetapan kebijakan’. Praktek-praktek politik yang terjadi di negara kita khusus di Propinsi NTT ini kebanyakan hanyalah sebuah kebahagiaan yang tertunda bagi masyarakat walaupun ada yang sangat berguna bagi masyarakat misalnya mendatangkan para artis saat kampanye dan semacamnya, memperbaiki jalan yang masih baik (khusus di kota), dll yang sebenarnya hanya untuk ’menyenangkan” hati masyarakat sesaat. Kebahagiaan sesaat adalah hal yang utama ketimbang kesejahteraan bersama bagi masyarakat. Bahkan ada orang yang mengatakan bahwa ”sama saja kita memilih para pemimpin-setiap kali kerjanya cuman janji dimana-mana”. Dan keluhan semacam ini terus dimuat di berbagai media masa bahkan didemokan tapi tidak ada yang menghiraukannya. Prinsipnya ialah bahwa ”emangnya gue pikiran” atau ”badai pasti berlalu”. Inilah politik identitas yang mungkin sedang menjadi prinsip bagi perpolitikan kita. Dan mungkin tulisan inipun dianggap sebagai ungkapan dari mereka yang kurang bahagia. Namun yang pasti bahwa untuk sebuah kebenaran tak ada satupun kata ’berhenti” baginya.

Kita semua tahu bahwa secara etimologis term politik berasal dari bahasa Yunani yakni politikos yang berarti menyangkut kewarganegaraan. Polites berarti seorang warga negara. Polis berarti kota. Politea berarti kewargaan. Dan menurut Aristoteles, manusia menurut kodratnya adalah zoon politikon: makluk yang hidup di kota dan polis itu adalah he koinonia politike: persekutuan hidup politis. Orang Romawi melihat politik sebagai suatu seni mengolah dan menata negara sampai dengan mencapai suatu harmoni/keseimbangan hidup. Berinspirasi dari konsep ini, saya boleh mengemukan bahwa: ada dua paradigma dan pengartian dasar politik yaitu: yang pertama politik dalam arti segala perjuangan luhur demi kepentingan dan kesejahteraan bersama; yang kedua lebih terkenal dan biasanya dikira satu-satunya, yakni politik dalam aspek power yakni pemaksaan atau hegemoni kehendak oleh pihak yang lebih kuat kepada yang nasib lemah. Karena itu tak heran ada ucapan yang terbang di mana-mana: politik itu kotor. Dan pengertian kedua ini menjadi awal pertumbuhan politik identitas itu sendiri.


Para pelaku politik identitas memuat banyak hal yang ’negatif’ yakni Politisi “kotor”, Politisi “pasar”, dan politisi yang self-interested . Yang penting bagi politisi yang self-interested ialah tujuannya atau interesenya tercapai dengan berbagai cara. Ia akan menjadikan arena politik sebagai lahan untuk meraup uang sebanyak mungkin. Bila saja ia terpilih menjadi anggota legislative maka yang ia pikirkan adalah sekurang-kurangnya telah menghemat anggaran rumah tangga selama 5 tahun. Ia selalu melihat peluang mendapatkan fasilitas sebagai anggota dewan melalui kekuasaan yang dia miliki. Sang politisi mengobral janji sebelum pelantikan atau rakyat kecil terlupakan akan dikedepankan dan dijunjung tinggi dalam pidato-pidato politik dan artikulasi politik yang populis tetapi sesudah pelantikan habis-habisan memanfaatkan posisi untuk memperkaya diri tanpa mempedulikan kepentingan rakyat kecil yang memilihnya. Bahkan sikap ini menjadi power yang dipertahankan sedemikian hingga biasnya bisa sampai puluhan tahun. Dan memang kecenderungan ini ada pada setiap manusia kalau manusia tidak pandai memahami apa itu sebenarnya ’dia dipilih’ dan mengapa ’dia dipilih’?

Politik juga dipandang “kotor” karena juga perilaku politisi yang kurang sportif.. Politisi model ini, kapan dan di mana saja selalu mengungkapkan visi dan misi mengutamakan kepentingan umum, dia selalu memberikan janji-janji manis… nanti saya jadi anggota DPRD atau anggota apa saja maka …. Politisi macam ini jika berpidato atau berkampanye bahkan akan mengutip ayat-ayat Kitab Suci, menolak pemberian uang atau barang di depan umum tetapi diam-diam dia ingin memiliki uang sogokan itu dan seterusnya menerima uang melalui “pintu belakang.” Sogok, korupsi dst adalah penegasan terhadap pandangan politik itu “kotor.” Ada juga politisi yang disebut politisi pasar. Kecenderungan ini memuat sebuah sikap merebut kembali dana yang telah dikeluarkannya untuk memperoleh jabatan itu. Inilah logika mekanisme pasar jabatan. Perjuangan untuk kepentingan pribadi ini agak sering dilaksanakan dengan cara yang criminal (the man behind of the gun) dan tanpa pemulihan meskipun secara verbal dipertegas konsep negara sebagai negara hukum dan berlakunya undang-undang tanpa pandang bulu.

Kebanyakan elit politik kita mengetahui dengan pasti tentang ketergantungan seseorang terhadap uang. Uang adalah syarat utama dalam apa yang disebut relasi sosial atau persahabatan. Kebanyakan relasi atau persahabatan itu diciptakan antara para penguasa dan para pengusaha yang ingat diri. Akhirnya kesejahteraan masyarakat tergantung dari baik tidaknya hubungan mereka. Ada pertentangan antar mereka maka yang menjadi sialnya adalah rakyat. Jika demikian apa yang harus rakyat lakukan: terus dan terus brsuara walaupun suara itu hanyalah sebuah lelucon bagi mereka. Benar jika kita melihat sikap pilitik identitas ini dalam pendapat Sigmund Freud. Ia mengatakan bahwa keserakahan sering muncul dalam diri manusia sebagai sebuah ekspresi watak anal. Watak anal adalah sifat seseorang yang energi utama dalam hidupnya diarahkan hanya pada usaha untuk memiliki, menabung dan menimbun uang dan benda-benda materi lepas dari soal butuh atau tak butuh. Orang-orang dengan watak anal ini menganut prinsip: “bagaimana dan di mana harta itu diperoleh serta apa yang saya lakukan dengan harta itu, itu bukan urusan orang lain melainkan urusanku sendiri; selama saya tak melanggar hukum, maka hak saya tak terbatas dan mutlak.”

Walaupun demikian kuatnya politik identitas ini ada dalam diri para elit politik kita namun apa yang dihidupi oleh masyarakat sekarang adalah sisi baik dari politik identitas itu walaupun ada kepahitan di mana-mana. Dalam konsep take by hand kita mengenal sikap mengambil tanpa memberi. Apakah mungkin hal ini harus dijalani walau ada penderitaan disamping kita? Renungkanlah.......

OPINI

OPINI

MENDENGARKAN: ANTARA KOMUNIKASI DAN JURNALISTIK

“Bukan soal membuat anyaman itu menjadi sempurna berbentuk bakul tetapi bagaimana bakul itu menjadi bagian dari pikiran kita. Entah sadar atau tidak sadar kita kadang terjebak dalam memilih mana yang sederhana namun berpengaruh daripada mana yang fulgar namun nihil”
Fr. Yarid K. Munah

Sekedar pengantar
Ada banyak lelaki yang mengatakan bahwa lebih baik mendengarkan suara burung berkicau daripada mendengarkan seorang wanita yang subur alias suara buruk. Karena tentang mendengarkan ada pendapat umum berpendapat bahwa ’seluruh diri terpaku pada suara yang datang”. Sadar atau tidak sadar ketika kita ingin mendengar, seluruh energi tubuh kita tertuju pada obyek suara yang ingin kita dengar. Bukan saja secara biologis seluruh organ dalam tubuh kita menyatu tapi juga secara psikologis kita seakan-akan terpangil untuk tidak memihak yang lain melainkan menungguh satu yang akan datang itu. Kita seakan-akan turut ditarik kepada bunyi yang akan kita dengar. Pada saat-saat seperti ini, kita sudah berada dalam komunikasi dan jurnalistik.
Sebagai calon imam kita dikondisikan dalam sebuah situasi akademik yang menuntut kita selalu MENDENGARKAN. Apa yang terjadi di kelas dan meja belajar di kamar tidaklah membuat kita selalu tua dalam mendengarkan. Karena pada masa-masa pendidikan (di semua jenjang) adalah masa-masa kita mencari makna dan berusaha menemukan yang terbaik bagi diri kita. Mendengarkan antara komunikasi dan jurnalisstik ibarat kita terjerumus dalam lumpur yang mau tidak mau kita harus berusaha dengan cara apapun membebaskan diri dari padanya. Kini untuk kita yang masih tergolong ’pencari makna’, janganlah jemujemunya mendengarkan karena dengannya kita akan menemukan makna itu. Makna itu akan menjadi bukti bahwa kita adalah manusia yang berkomunikasi dan berjulalistik.

Mendengarkan
Keinginan menjadi sehat adalah dambaan semua orang. Sekilas kita berpendapat tentang kesehatan tidaklah menjadi selesai dengan penjelasan saja melainkan dengan tindakan. Kesehatan adalah fenomena yang terus mengintari batin dan pikiran manusia. Dalam hubungan dengan kesehatan, kadang orang merefeksikan mendengarkan dengan keadaan sehat atau tidaknya organ pendengaran. Namun itu hanya hal teknis atau fisik. Mendengar beda dengan mendengarkan. Orang yang mendengar adalah orang yang tidak serius dalam memilih suara. Mendengar itu menampung semua bunyi yang masuk sedangkan mendengarkan adalah setia menangkap satu makna. Mendengarkan bukan saja dengan organ telinga tetapi juga dengan hati. Keterpautan antara batin dan pikiran antara hati dan telinga membuat kita fokus dalam menelaah sesuatu. Dengan mendengarkan ada rasa keinginan. Orang yang tidak mendengarkan adalah orang yang tidak utuh melainkan terpisah, terombang-ambing atau pimplang-tidak ada ketegasan dalam dirinya. Dengan hilangnya rasa mendengarkan maka dengan sendirinya hilang pula keinginan untuk mencari makna. Karena tidak ada manusia yang sempurna dalam dirinya maka ia mesti butuh sikap mendengarkan terhadap kemungkinan-kemungkinan baru yang bisa membantu dia boleh familiar dengan perkembangan dunia. Karena itu dengan mendengarkan, kita dituntut untuk menghadapi apa yang disebut komunikasi dan jurnalistik; analisa/berbicara dan menulis.

Apa itu Komunikasi dan Jurnalistik?
Secara sederhana saja, komunikasi (=communication) merupakan satu kegiatan yang menjadikan suatu idea menjadi milik bersama. Segi mempengaruhi dan memperoleh dukungan terhadap gagasan atau idea yang disarankan karenanya selalu ada. Sedangkan jurnalistik ialah kegiatan pencatatan/pelaporan dan penyebaran tentang kejadian sehari-hari (=latin: diurnalis=harian atau setiap hari). Jurnal diartikan sebagai catatan harian. Catatan atas kejadian sehari-hari atau surat kabar harian. Jurnalistik diartikan sebagai hal yang menyangkut kewartawanan, tulis-menulis, mengolah dan mengumpulkan berita. Jurnalisme lebih mengacu kepada proses bukan kelembagaan seperti pers.
Sangat luas dan gede banget kalau kita bicara tentang dua hal ini (komunikasi dan jurnalistik). Namun hal yang paling penting untuk kita yaitu kedua hal ini hanya mau menekankan siapa mengatakan apa, melalui sarana apa, kepada siapa dan dengan efek apa. Penekanan ini menjadi sebuah litani yang paten yang tidak bisa kita hindari dalam hidup kita sebagai manusia.
Titik pertemuan antara komunikasi dan jurnalistik ialah bahwa catatan tentang kejadian sehari-hari tersebut dimaksudkan untuk memperngaruhi pendapat orang lain tentang hal yang diberitakan. Faktor seleksi kejadian, seleksi berita dan cara pelaporan karenanya sangat menentukan model dan pola serta mutu suatu kejadian. Dengan demikian, pencatatan dan penyebaran tentang suatu kejadian bukan merupakan suatu hal yang polos dan tidak diadakan demi pelaporan kejadiannya ’an sich’, akan tetapi lebih memperhitungkan akibat dan pengaruh pemberitaan tersebut terhadap pembaca, penonton atau pendengar. Karena itu tujuan dari komunikasi dan jurnalistik adalah menjadikan kegiatan manusia itu bisa dipertanggungjawabkan dari zaman ke zaman.

Mendengarkan Memungkinkan adanya Komunikasi dan Jurnalistik
Hal yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa jika orang ingin berkomunikasi dan berjurnalis dengan baik maka ia harus mendengarkan dengan baik pula. Karena hal yang terpenting bagi kita bukan soal menjadikan diri kita sumber informasi tetapi penerima informasi. Dengan demikian kita selalu diperkaya dan diperbaharui. Penting sekali sikap mendengarkan ditanamkan kepada mereka yang masih dalam jenjang pendidikan, karena dengannya mereka dapat menangkan dengan baik apa yang dibicarakan pengjar dan dapat menyalinnya dengan baik. Kadang kala dan memang sangat benar kalau mendengarkan menentukan lulus atau tidaknya seseorang. Karena manusia sejak dibentuk dalam rahim sudah memiliki kualitas intelek yang cukup dan memadai tinggal bagaimana manusia lebih memantapkan atau lebih mendewasakan atau lebih tepat lebih difamiliarkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Hubungan yang psikologis antara mendengarkan dengan dua hal di atas tidaklah menghalangi apa yang disebut sebagai perubahan pribadi karena manusia tidak statasi dalam pertumbuhannya. Manusia selalu siap menerima apa yang baru dan berkenan bagi dirinya. Demikian komunikasi dan jurnalistik yang baik dan mantap bisa memberi penilaian yang pantas bagi seseorang yang bergelut secara serius di dalamnya. Mungkin tidak disadari bahwa kadang kita berpikir bahwa dengan otak kita mampu menentukan segalanya padahal dalam diri manusia tidak kenal namanya single fighter. Yang perlu adalah otak yang baik dan sikap mendengarkan yang baik. Mendengarkan menentukan semuanya karena itu menyangkut bagaimana jiwa manusia diserahkan secara utuh atau tidak. Melupakan banyak hal adalah biasa tetapi tidak mendengarkan adalah hal yang aneh bagi manusia. Tidak mendengarkan atau berhenti mendengarkan sama arti dengan tidak berkomunikasi dan berjurnalis. Kalau sudah demikian maka kita termasuk orang yang sendang mengalami gangguan saraf dan mental.

Penutup
Akhirnya kita tidak bisa menipu diri atau melarikan diri dari sikap mendengarkan. Ingat bahwa ketika anda membaca tulisan ini anda sudah mendengarkan dan dengan sendirinya pada saat yang sama anda berkomunikasi dan berjurnalistik. Apa yang ada dalam pikiran anda ketika membaca tulisan ini, entah setuju atau tidak, semuanya adalah proses mendengarkan. Jadilah pendengar dan perwarta yang baik dan menyenangkan.


















CATATAN LEPAS

JEMBATAN KOMUNIKASI ANTARGENERASI ADALAH
P E N D I D I K A N

”katakanlah sejujurnya pada dirimu jika engkau mampu menjawabi suatu persoalan. Katakanlah sejujurnya juga pada orang lain jika kamu tidak mampu meyakinkan orang akan jawabanmu, sebab tidak ada kata bodoh untuk setiap pribadi manusia”...
Fr. Yarid K. Munah

Saya berpikir sangat aneh kalau orang memulai sesuatu dengan sebuah keluhan/kegelisahan karena ketidakmampuan diri. Seolah-olah ia diciptakan untuk selalu sedih dan merasa diri minder dengan sesamanya sendiri. Kita harus merasa yakin atas kekurangan dan kelebihan kita. Sudah jelas bahwa kita manusia memiliki kapasitas intelektual yang memadai dan memang itu diadakan untuk kita agar kita mampu berelasi dengan orang lain. Cuma saja takarannya berbeda-beda namun itu tidaklah statis. Semua bisa dikembangkan lewat belajar dan belajar. Dan untuk belajar dengan baik mesti sekolah bukan?
Jelas PENDIDIKAN menjadikan diri kita sungguh manusia. Entah itu pendidikan formal maupun informal. Dengan pendirikan kita dapat berkomunikasi dari generasi ke generasi. Dengan pendidikan pula, kita bisa ’dikomunikasikan’ dari generasi ke generasi karena ide cemerlang kita dapat membuat orang ”bangkit dan bergerak”.
Satu pertanyaan yang sering muncul: apa pendidikan itu penting?
La ialah masa ngga ia..... itulah jawaban centil yang mungkin ditempelkan pada pertanyaan di atas. Pendidikan tidak saja sebatas pada instansi-instansi fomal tetapi pendidikan mencakup seluruh usaha manusia untuk mengusahakan kesejatian. Inilah yang disebut sekolah kemanusiaan-sekolah kehidupan. Memang benar kalau berbicara pendidikan pasti banyak hal yang mengintarinya namun yang pasti bahwa pendidikan menjadi jembatan emas bagi komunikasi antar generasi.
Membahas masalah pendidikan dewasa ini ialah terutama dalam usaha untuk pada suatu pihak mendidik/mempersiapkan individu agar ia tangguh memecahkan masalah dalam masa depan yang akan dihadapinya dan pada lain pihak meneruskan nilai-nilai luhur yang merupakan sifat khas pribadi bangsa. Hal ini dapat dilakukan antara lain melalui komunikasi.
Bagaimana pendidikan menjadi jembatan komunikasi antargenerasi?
Lewat pendidikan kita mengenal dan mengetahui bermacam-macam pendekatan yang dapat membuat kita secara bebas menjalin relasi dengan siapa saja. Dalam dan melalui pendidikan kita belajar bagaimana memahami persoalan, bagaimana mempertanggungjawabkan suatu persoalan, bagaimana berbahasa dengan bahasa orang lain, bagaimana menelusuri pikiran-pikiran ilmiah maupun tradisional. Bukan mau menekankan bahwa pendidikan menjadikan manusia mampu tetapi pendidikan menjadikan manusia sadar bahwa dia mesti mengusahakan hidup, mesti mengadakan relasi dengan apa saja agar ia tidak seperti orang yang tak memiliki harapan.
Dalam tulisan ini saya secara khusus menekankan pendidikan yang membuat kita bisa memahami orang lain. Memahami orang lain tidak saja seara psikologis tetapi secara akademik. Memahami berarti menguasai sekurang-kurangnya aspek terbaik dari orang-orang lain.
Terlepas dari pendidikan formal yang sudah banyak kita ketahui, saya mau menunjukan suatu kontinuitas dari masayarakat tradisional/postfigurative. Dalam diri masyarakat tradisional, ada keterikatan yang sangat kuat dalam kelompok-kelompok menyangkut nilai-nilai kesejatian: menguasahakah hidup, bahasa, hubungan dengan dunia luar. Nilai-nilai yang sangat dipertahankan ini dapat membantu kita pada zaman sekarang untuk terus mengatasi/memberi jawaban terhadap perubahan nilai yang dari zaman ke zaman mengalami sebuah pembaharuan/penyesuaian.
Sering persoalan yang dihadapi yang sebenarnya terjadi salah paham yakni terjadi perubahan sikap antara generasi tua dan generasi muda. Yang tua selalu mempertahankan pendidikannya dengan alasan banyak output yang sudah ’menjadi orang’ sedangkan yang muda juga mempertahankan sikap mudanya yang modernis dengan alasan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun yang harus dicatat di sini bahwa nilai-nilai dasar menyoal kesejatian hidup manusia perlu dihidupkan kembali seperti rasa pengabdian, cermat, hemat, kerja keras, toleransi, kebaikan dan lain-lain. Dengan mempertahankan nilai-nilai ini yang tentunya melalui pendidikan, setiap pribadi dapat memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya di masa depan, sehingga bisa dikatakan pendidikan tidak memisahkan masa lalu, masa kini dan masa depan. Dengan demikian komunikasi bisa terjadi antar generasi. Diharapkan agar melalui pendidikan kita dapat berkomunikasi karena kita sudah mengetahui, mendapat informasi dan akhirnya memahami apa dan siapa itu seseorang atau sesuatu...........betul buka?














REFLEKSI

MENEMUKAN TUHAN DALAM SEGALA

”Tuhan Tidak Marah Kalau istilah net, chatting, download, online, friendster, mailing-list, dst..akrab bagi seorang frater apalagi seorang imam….”
Fr. Yarid K. Munah
(*munahcor@yahoo.com)

Pada halaman 6 majalah ROHANI edisi 55 Agustus 2008, tulisan dari S. Hari Suparwito, SJ, sedikit menguraikan sebuah pernyataan plesetan tentang hubungan biara dan teknologi; biara adalah ketertutupan dan internet adalah keterbukaan. Menururut saya pendapat ini mau menegaskan bahwa perlu bagi kita para petugas pastoral mengenal teknologi yang berkembang saat ini. Bukan berarti melepaskan aturan-atura atau konstitusi masing-masing komunitas, tetapi dengan kesadaran penuh dan tentunya dalam aturan yang wajar dan cara penggunaan yang tepat sasar.
Mengenal teknologi pada zaman sekarang adalah salah satu tuntutan dalam pendidikan. Sebagai manusia yang secara tertentu turut ditentukan oleh perubahan waktu, kitapun seyogyanya mengiyakan ‘paksaan’ dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu hal yang sangat cepat dan akurat adalah Internet. Internet sudah digunakan pada semua kalangan. Menurut data yang dihimpun dikemukakan bahwa pengguna internet terbanyak per maret 2008 menurut Majalah ROHANI adalah benua Asia, dan yang paling banyak diakses adalah Email yang mencapai 90%.
Kenyataan kuantitatif ini membuktikan bahwa Internet memang sangat berpengaruh dalam hidup kita. Bagaimana sekarang hubungannya dengan iman kita? Satu hal yang patut dipegang sekarang yakni menemukan Tuhan dalam dan melalui Internet atau bisa dibangdingkan dengan rumusan rililgius: menemukan Tuhan dalam segala. Penemuan di sini bukanlah menyangkut masalah fundamental tetapi menyangkut hal-hal informatif. Karena itu Internet adalah sarana bukanlah tujuan. Kalau dikatakan sarana apakah dia sejajar dengan Kitab Suci, ikon kudus, dlsbnya? Secara harafiah ya karena fungsinya tapi secara real tidak karena internet bukan barang khas rohani.
Kalau kita membuka situs-situs rohani, di sana kita menemukan berbagai informasi tentang Yesus dan bagaimana orang berbicara tentang Yesus, bagaimana orang berbicara tentang segala sesuatu dalam nama Yesus, tentang informasi-informasi tarekat-tarekat tertentu, promosi panggilan, dll. Semuanya itu secara cepat dapat kita peroleh hanya dalam hitungan detik.
Paus Yohanes Paulus II juga mengajak agar Gereja berani melintasi ambang pintu yang baru ini, untuk masuk dan berintegrasi ke kedalaman jaringan global internet sehingga sekarang sebagaimana dulu interaksi antara Injil dan budaya dapat memperlihatkan kepada dunia kemuliaan Allah di wajah Kristus, (2 Kor 4:6).
Menggunakan Internet untuk menemukan Yesus di dalamnya atau mewartakan Yesus lewatnya, menurut saya bukanlah masalah berlebih-lebihan tapi merupakan sebuah gerakan ’bangkit dan bergerak’, menggunakan kekuatan dunia untuk memuliakan Allah. Wajah Allah dalam dunia maya, setidak-tidaknya membuat iman kita juga turut menjadi barang maya. Justru lewat maya itu kita dapat menonmayakannya lewat cara hidup dan ajaran-ajaran Gereja. Bergaul dengan barang-barang teknologi tinggi, sudah pasti memiliki resiko tinggi. Di sini kita butuh kesadaran tinggi agar kita tidak jatuh sendiri dari ketinggian itu. Yesus sendiri menggunakan sarana pada zamannya entah itu lewat pertunjukaan atau lewat perumpamaan-perumpamaan untuk memperkenalkan Allah, demikian pula kita pada zaman speedy ini, semestinya turut melakukan hal yang sama. Saya rasa Tuhan tidak marah kalau kita akrab dengannya asal akrab karena keinginan untuk mengenal Yang Baik.
Internet-sebuah sarana komunikasi, menjadi salah satu tempat kita menemukan hal-hal tentang Tuhan, entah itu tentang pertanggungjawaban maupun tawaran. Walaupun dalam banyak hal, teknologi menjadi lahan subur bagi tindakan negatif tetapi kita perlu sebuah pertimbangan terhadapnya. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Salah satu yang penting adalah apakah menggunakan internet atau semacamnya, kita mengalami sebuah peningkatkan kualitas iman atau tidak? Apakah sesudah menggunakannya kita semakin mencitai Yesus atau tidak? Kesadaran sebagai pencari makna tidak membuat kita jatuh dalam jurang kesalahan sehingga kita harus membutuhkan apa yang disebut pertobatan intelektual. Karena batas-batas medium harus disadari oleh semua pihak, dan bahwa tujuan program kristen adalah pelayanan dalam rangka kegiatan pastoral yang menyeluruh, dan bukan terutama bukan keberhasilan dalam bidang ’show’.
Sekarang banyak orang yang membuat CD lagu-lagu rohani, semuanya itu mau menunjukan sebuah misi lewat media. Bermisi lewat internet atau semacamnya sudah menjadi bagian dari kehidupan Gereja, dengan kesadaran bahwa media menjadi sarana pewartaan. Berdasarkan tema misi 19 oktober 2008, kita diajak untuk menjadi pelayan dan rasul Kristus, bukan sekedar maya tapi betul-betul real. Hal ini bukan berarti dunia maya ditinggalkan melainkan menjadi pendukung-hal teknis/informan.
Dengan demikian apa yang terjadi dalam menemukan Tuhan dalam segala, menjadi bentuk refleksi yang tidak menegatifkan media masa tetapi memberi inspirasi yang mendunia. Menggunakan internet, siapa takut?


Say Hallo

inilah yang aku harapkan. di sini aku dapat meluapkan segala pikiran aku tentang semua hal. semoga mereka yang mengunjungi blog ini dapat menjadi sahabat yang baik.